Bermimpilah Kawan


“Indonesian Idol, be the next superstar”.

Teman-teman semua pasti sudah merasa asing lagi untuk mendengar namanya, bahkan untuk melafalkannya pun mungkin sudah terasa mudah buat teman-teman semuanya, atau bahkan mungkin ada dari beberapa teman-teman yang mengikuti ajang pencarian bakat dalam bidang olah vocal yang satu ini.

“Be the next superstar”

iming-iming yang sangat menarik bukan? Siapa sih yang tidak mau dikenal namanya di seluruh nusantara untuk menjadi seorang super star yang memiliki beribu-ribu bahkan berjuta-juta fans dari berbagai lapisan dan kalangan masyarakat, atau bahkan sampai ke luar negeri? (bagi yang tidak mau silahkan tunjuk tangan! :D) Untuk menjadi seorang super star memang tidaklah mudah, memang selalu harus ada yang dikorbankan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan, mungkin tidak selalu berbentuk pengorbanan materi (uang), tapi juga pengorbanan fisik dan juga waktu. Begitu pula dengan para peserta Indonesian idol, dimulai dari awal pendaftaran peserta audisi. Untuk sampai bertemu dengan dewan juri yang akan mengetes kemampuan vocal kita, sebelumnya kita terlebih dahulu harus bangun pagi-pagi sekali agar tidak terujebak dalm antrian yang sangat penjang dan melelahkan. Lalu bagaimana bila kita terlambat untuk bangun pagi?? (resiko ditanggung peserta. Hehe.. 🙂 ). Nah, untuk mereka yang memang terlambat bangun, mau tidak mau mereka harus terus mengikuti antrian yang ada, mungkin satu hari penuh ( lalu, bagaimana yang umat muslim, apakah bisa disempatkan untuk sholat?? Lebih baik tanyakan pada mereka yang pernah ikut audisi, hehe..🙂 ) atau mungkin bagi yang antriannya tidak terlalu panjang seperti kereta bisa hanya dalam waktu setengah hari. Setelah mereka lolos berbagi tahap audisi, mereka pun akan mengikuti babak workshop, yang tentunya akan mengalami masa karantina yang cukup memakan waktu, nah dalam hal ini waktu yang akan dikorbankan. Bagi mereka yang sedang menjalani kuliah, mereka pun dengan terpaksa harus mengambil cuti kuliah, sedangkan untuk yang bekerja? Hmm, untuk urusan itu sepertinya lebih kepada keputusan untuk masing-masing atasan. Lalu bagaimana yang sekolah?. Hmm?? Dalam menentukan pilihan, setiap orang tentunya harus sudah memikirkan tentang baik buruknya sesuatu, apa yang akan dia peroleh dan apa yang dia harus korbankan untuk memperoleh mimpi-mimpinya. Segala sesuatu hal yang kita ambil memang selalu mengandung resiko, memang tidak mudah untuk menentukan pilihannya bukan? Tapi mengaku kalah sebelum bertanding juga bukan merupakan suatu keputusan yang bijaksana.
Mimpi itu bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dicapai, karena jika mimpi sangatlah mudah untuk dicapai dan diwujudkan, mungkin kita hanya akan menghargai usaha kita semudah kita membalikkan telapak tangan , tanpa mengerti apa arti proses yang selama ini kita lalui.
Suatu kutipan dari novel sang pemimpi

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”.

Jadi, jangan takutlah untuk bermimpi. Wujudkanlah mimpimu dan ekspresikanlah jiwamu. SELAMAT BERMIMPI



3 thoughts on “Bermimpilah Kawan

  1. kalo bicara tentang indonesian Idol, saya merasa tersanjung …
    setelah lulus audisi di jogja, sekarang sedang masa seleksi di jakarta …

    mohon do’anya dari temen – temen semua … semoga saya bisa lolos dan jadi the next indonesian idol … hadiahnya, nanti dibagi – bagi …
    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s