Cerita Setahun yang Lalu


Hidup itu pilihan, terkait masalah baik buruknya, untung ruginya, atau apapun itu, hidup itu tetaplah sebuah pilihan. Tak boleh ada penyesalan, tak boleh ada keraguan. Apapun jalan cerita yang dipilih, bismillah, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk setiap jalan cerita yang kita pilih. Ini cerita tentang setahun yang lalu, mungkin tidak tepat satu tahun, tapi satu tahun 17 hari yang lalu. Cerita berawal dari beberapa bulan sebelum itu, ketika saya masih mengabdikan diri untuk mengajar di sebuah sekolah negeri di Kota Sukabumi. Seorang Menteri Pendidikan yang baru terpilih kala itu, dengan beberapa terobosan dan program barunya, ia mengaujakan kurikulum baru untuk merubah paradigma bangsa Indonesia, kurikulum tersebut adalah Kurikulum 2013. Sebuah terobosan kurikulum baru yang ideal menurutnya dan tanpa pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Seakan ditimpa beban yang berkilo-kilo beratnya, tentu saja kabar tersebut membuat saya galau – istilah anak muda sekarang – , tak tau lagi apa yang harus saya kerjakan, apalagi pada saat itu, status saya hanya sebagai guru honorer, yang mau tak mau, suka tidak suka, saya pun mungkin akan ikut menghilang ketika pelajaran itu menghilang. Sejak saat itu, saya bertekad, untuk mencari jalan lain dan peluang lain. Selalu banyak cara untuk bertahan, dan selalu ada jalan bagi yang mau berusaha. Tak lama berselang, ada seorang teman yang memberikan kabar mengenai peluang kuliah S2 di ITB dengan program beasiswa. Seperti mendapat tambahan bahan bakar yang baru, dengan semangat menggebu dan kegalauan yang melatar belakangi semuanya, saya pun berjuang untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Karena syarat utama untuk seleksi beasiswa tersebut adalah Tes TOEFL dan Tes TPA, maka bergerilya lah saya supaya lolos dari passing grade yang di tetapkan. Cerita pun belum berakhir, ketika itu saya masih harus menunggu pengumuman kelulusan dan pengumuman beasiswa, galau part 2 pun dimulai. Sambil menunggu kabar gembira yang tak kunjung datang, kabar lain pun datang. Lowongan CPNS 2013 dibuka, saya pun mendaftarkan diri untuk mengikuti tes tersebut. Saya mendaftar CPNS di dua tempat, yang pertama di Kota Bogor sebagai Guru RPL, yang berikutnya di Kota Tangerang Selatan sebagai Guru TIK SMA. Surat balasan pun tiba, dua kota tersebut melaksanakan tes pada waktu yang bersamaan yaitu, pada tanggal 2 November 2013. Di sinilah pilihan itu diambil, sambil mempertimbangkan jarak dan posisi yang di ambil, akhirnya saya memilih untuk mengikuti tes di Pemerintah Kota Bogor. Setelah tes pun usai, saya pun haris menunggu hingga pengumuman tersebut diumumkan yaitu pada tanggal 24 Desember 2014. (And i waited again) Setelah hampir sebulan berselang dari tes CPNS, saya mendapat kabar bahwa saya di terima di program S2 ITB, dan untuk yang mengikuti program beasiswa dari SEAMOLEC, pada tanggal 23 Desember 2014 saya harus sudah berada di sana. Nah, galau part 3 pun di mulai, satu hari menjelang pengumuman saya sudah harus berada di Pondok Cabe untuk mengikuti kuliah matrikulasi di sana. Akhirnya saya pun memutuskan untuk berangkat ke sana. Setelah mencari kosan kesana kemari, di dapatlah sebuah kosan dengan kamar yang cukup besar dan nyaman untuk ditinggali.

Setelah pencarian kosan pun usai, saya pun kemabali ke gedung SEAMOLEC untuk mengikuti kuliah, dan diberikanlah tugas yang besok harus sudah selesai dikerjakan dan dikumpulkan. Tugas tersebut adalah membuat desain 3D untuk 5 benda yang berada di dapur, (mantep banget kan, mana ga punya mouse). Akhirnya saya bersama dua teman yang lain memutuskan untuk berbelanja mouse ke Point Square, dan salah satu dari kedua teman saya tersebut adalah ……. Merinda Sundari (read: ririn)😀 . Ternyata dia sedang menjalani program magang dari kampusnya yaitu UNS untuk memperoleh beasiswa penelitian. Dia adalah teman satu kampus, satu organisasi dan satu kelas ketika kuliah di Pend. Ilkom UPI, takjub rasanya, ketemu teman lama di kota berbeda, hihi… Pencarian mouse pun di mulai. Jarak tempuh dari Pondok Cabe ke Point Square ternyata lumayan, membutuhkan waktu tempuh kurang lebih satu jam tanpa bergunta-ganti angkutan untuk tiba di sana, ya setelah hitungan macet dan ngetem di sana-sini. Pada saat sedang memilih mouse di salah satu toko yang ada di situ, tiba-tiba saya pun mendapatkan kabar dari seorang adik tingkat, yang kala itu sama-sama mendaftar untuk mengikuti S2 di ITB. Singkat cerita dia mengabarkan bahwa saya keterima sebagai CPNS di Kota Bogor. Antara senang, bingung, dan kesel karena koneksi internetnya lambat, sehingga saya belum bisa memastikan kabarnya. Dan ternyata fix dengan nama yang sama dan nomor peserta yang sama, bahwa saya memang benar-benar diterima sebagai CPNS Kota Bogor. Akhirnya, saya pun menelpon kedua orang tua saya untuk meminta saran yang terbaik. Pilihan pun akhirnya di pilih, saya memilih untuk mengambil kesempatan CPNS dan melepaskan beasiswa tersebut. Walau pada awalnya saya berpikir bisa menjalani keduanya dalam satu waktu, ternyata pilihan itu tetap harus di ambil. Walau kuliah S2 bisa di laksanakan kapan pun setelah bekerja, tapi terkadang kesempatan seperti itu belum tentu kembali datang.

Tapi saya ikhlas, saya ridho, ini pilihan saya, ini jalan cerita yang saya pilih, dan semoga ini juga jalan terbaik yang Engkau pilihkan ya Rabb.

2 thoughts on “Cerita Setahun yang Lalu

  1. Iya mba, jadi apapun yang terjadi itu kan sudah kehendak Tuhan, dan yang Tuhan inginkan pun hanyalah keputusan tegas dari kamu, kalaupun nanti salah akan dibenarkan🙂 semangat buat PNS!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s